Listrik Byar-Pet?

Menyoal banyak pertanyaan yang beredar di kalangan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, yang mempertanyakan perihal Listrik yang sering sekali padam di waktu-waktu tertentu, saya mendapatkan satu penjelasan yang cukup komprehensif dari hasil diskusi di milis dengan seorang teman SMA saya yang kebetulan saat ini masih aktif di Perusahaan Listrik milik Negara tersebut.

Berikut penjelasannya :


gini yah adek2..

sebelumnya gw jelasin dulu kondisi kelistrikan di NKRI tercinta ini,

daya terpasang kita skrg +/- 22rban MW, dimana 16rb-MWnya ada di Jawa, sementara beban puncak kita udah 21rb MW, jadi cadangan nya sangat mepet skali banget yang membuat Indonesia berada dalam kondisi KRISIS LISTRIK

kalo ada salah satu dari unit pembangkit, transmisi atw GI kita yang gangguan, supply listrik jadi terganggu & kita gak punya cadangan untuk mem-back up listrik yang padam.

sementara unit2 PLN rata2 udah uzur

kenapa PLN gak membangun pembangkit baru? alasannya memang klasik, GAK ADA UANG boo..

Orang banyak yang tanya, kenapa perusahaan “monopoli” yang produknya dipake semua org dr tukang becak ampe presiden merugi terus?

jawabannya karena HARGA LISTRIK KITA MASIH SUBSIDI.
Jadi harga listrik yang rata2 Rp. 741/Kwh itu masih harga rugi.

Bisa dibayangin kalo Rp. 741/Kwh, artinya konsumen bisa make 1000 Watt listrik selama sejam dengan bayaran Rp. 741,- kalo dipake untuk sms, cuma bisa kepake 5x sms lho (pake Telkomsel). Sementara dgn Rp. 741,- untuk listrik, bisa dipake untuk nyalain 125 lampu neon Phillips yang 8 watt, yang bisa nerangin satu stadion selama sejam (hiper yah gw) tp itu terlepas dari daya reaktif yah (kalo ini teknis, japri aja kalo mo penjelasan)

di rumah, Rp. 741,- bisa dipake untuk nyalain TV (40 Watt), AC 1/2 PK (+-400 Watt), Kulkas (80 Watt), komputer (100 Watt), Sound System (100 Watt), Lampu neon (2×8 Watt) secara bersamaan selama sejam!!!

Apa gak murah, sementara HPP listrik kita sangat tinggi karena 26% pembangkit PLN menggunakan BBM.

PLN disubsidi? Yup, PLN disubsidi, tapi dlm bentuk uang yang besarnya 60 Trilliun..

tapi kita disuruh beli BBM dengan harga industri. Dulu pas masih di Lampung, harga HSD untuk masyarakat Rp.4500/liter, tp PLN beli dengan harga Rp.6341/liter

nah, 1 liter HSD ini cuma bisa menghasilkan listrik sebesar 3 Kwh (ini udah standar pabrikan mesin), artinya, untuk 1 Kwh-nya, PLN butuh biaya Rp.2100an, itu br dr bahan bakar, blm biaya lain2, kaya biaya transfer via transmisi, distribusi, depresiasi dll. tapi PLN jual dengan harga Rp. 641/Kwh(harga di Lampung), jadi bisa dibayangin kerugian yang diderita perusahaan gw tercinta ini😀 karena 26% pembangkit BBMnya PLN menghabiskan sekitar 65% Anggaran PLN. Sisa 35%nya dipake untuk macem2, dimana biaya macem2 itu gak termasuk biaya membangun pembangkit,transmisi/GI2 baru.

Gak ada yang salah dengan kebijakan ini, karena jaman orba dulu, BBM sangat murah, jd sangat menguntungkan kalo kita pake BBM instead of Batubara, Gas apalgi Geothermal yg sayangnya dulu kurang diperhatikan. Kurangnya Visi dr petinggi2 jaman dulu yang menganggap BBM sangat berlimpah ruah menjadikan kondisi kita jd kaya skrg ini.

Sementara air yang melimpah ruah & GRATIS, agak susah diandalkan untuk membangkitkan listrik karena tergantung elevasi air. Perubahan iklim di dunia & penggundulan hutan jg jd salah satu faktor kalo PLTA susah untuk diharapkan. Memang bener kata Jeres, curah hujan kita sangat tinggi, tp kalo gak ada yang nampung, kondisinya jadi serba sulit kalo udah masuk musim kemarau..dan ini kenyataan..

Untuk pembangkit2 lainnya yang pake batubara, gas dll gak usah dibahas yah, sebenernya sama aja, rugi juga, tapi gak separah kalo pake BBM.

Tapi tenang aja, sekarang pemerintah mencanangkan Crash Program Pembangunan Pembangkit Non BBM 10,000 MW yang nanti akan disusul dengan 10,000 MW lagi, jadi Insya ALLAH tahun 2015, Indonesia masuk kategori AMAN LISTRIK..

PLN gak bisa disebut perusahaan monopoli, karena monopoli hanya dilakukan PLN dalam hal jual listrik, sementara penentuan harganya ada di Pemerintah.

Dengan era otonomi daerah, sebenernya daerah2 bisa minta PLN untuk bikin tarif regional, contoh di Batam & Tarakan.

Di 2 daerah itu, listrik gak dlayani oleh unit PLN, tapi anak perusahaan, yaitu PLN Batam & PLN Tarakan. Disana pemda nya ngomong ke PLN kasarnya kaya gini :

Pemda : “Eh PLN, bisa gak nyediain listrik yang handal nan tangguh di wilayah gw, ntar

gw berani bayar lebih mahal deh..”

PLN : “Ya beranilaaaaaaaaaaaaahhhh…asal harga /kwh nya diatas HPP yah”

Pemda : “Deal”

Akhirnya dibentuklah 2 anak perusahaan itu, yang jual listrik dengan harga diatas HPP. Hasilnya? kondisi Listrik disana AMAN LISTRIK dan PLN menjamin, kalo sampe padam listrik, maka tagihan konsumen akan dipotong..

Jadi, dengan kondisi yang sekarang, gw terpaksa bilang kalo keadaan yang dialami Salman akan msh sering dirasakan masyarakat RI setidaknya Insya ALLAH sampe 2010

mdh2an setelah itu kondisinya membaik..

sebenernya msh banyak yang mo diomongin, tp ini aja udah kaya nulis surat cinta, jd mending satu2 aja yah, nunggu feedback dr temen2 mengenai penjelasan gw diatas

yang gw rasa akan mengarah ke penggunaan energi alternatif such as nuklir, geothermal, angin dll..😀

Semoga penjelasan kawan diatas dapat menambah pengetahuan kita semua (termasuk saya) dalam menyikapi kondisi dunia kelistrikan negara ini…
(Courtesy of Mr. I.Y.S)

3 Komentar

  1. Gw sich nggak nolak argumen di atas, cuman ada kalimat yang mengganjal:

    “PLN gak bisa disebut perusahaan monopoli, karena monopoli hanya dilakukan PLN dalam hal jual listrik, sementara penentuan harganya ada di Pemerintah.”

    Setahu saya,

    Pasar monopoli adalah pasar yang hanya ada satu supplier barang/jasa & barang/jasa tadi hampir nggak ada substitusinys. Sesuai definisi ini, PLN ya monopoli donk. Di Batam ya dimonopoli oleh PLN Batam. Di Cikarang listrindo ya dimonopoli Cikarang Listrindo (swasta).

    Supaya monopoli tidak semena-mena kepada pelanggan, maka perusahaan monopoli tidak dapat menentukan harganya sendiri, tapi ditentukan oleh pemerintah dalam bentuk tarif.

    Tetapi bisa juga yang terjadi bahwa pemerintah yang semena-mena terhadap si pemegang monopoli dengan menentukan tarif dibawah biaya produksi, seperti kasus PLN.

    Tapi ini juga nggak berarti terus PLN minta bisa nentukan harga sendiri. Hanya perusahaan dalam pasar yang bersaing yang boleh nentukan harga sendiri, karena harganya akan terbentuk oleh kompetisi.

  2. Sebelumnya, terimakasih atas komentarnya mas totok, seperti yang pernah kita pelajari di sekolah dahulu, bahwa Pasar Monopoli murni adalah pasar yang dikuasai hanya oleh satu Produsen, tanpa adanya subdstitusi, dimana faktor harga sangat ditentukan oleh produsen itu sendiri, dan kalaupun ada pengaruh faktor diluar produsen akan kecil pengaruhnya, selain Hukum Permintaan dan Penawaran tentunya.

    Karena itu, teman saya tersebut kemudian menjelaskan dalam konteks : “PLN gak bisa disebut perusahaan monopoli, karena monopoli hanya dilakukan PLN dalam hal jual listrik, sementara penentuan harganya ada di Pemerintah.” (maksudnya adalah monopoli murni sebagai layaknya produsen tunggal.)

    Padahal, menurut saya, saat ini PLN juga tidak bisa dibilang sebagai “Produsen” Listrik dalam arti kata menguasai seluruh Pembangkit yang berdiri di seluruh Indonesia. Bukan begitu?

  3. mau nanya nih, bang…

    kalau misalnya proyek pln 2 x 10.000 MW sudah terpasang, apakah benar” kita akan terbebas dari krisis listrik ? sementara dari tahun ke tahun jumlah penduduk negara kita bertambah terus, yang mau tidak mau juga membutuhkan tambahan energi, termasuk listrik. selain itu dengan pertimbangan bahwa beberapa pembangkit lama yang sudah waktunya memasuki masa pensiun perlu untuk diganti.

    menurut rencana umum ketenagalistrikan nasional yang menargetkan rasio elektrifikasi sebesar 90% pada 2020, maka jumlah pasokan daya yang dibutuhkan lebih dari 2 x 10.000 MW.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s